Selasa, 01 September 2015

MY NOVEL

ranting
Seperti suara Halilintar,suara ayah berteriak cerai tepat di wajah emak, ayah mengucapkan kata talak 3 kali dengan wajah penuh amarah , aku yang sedari tadi mengintip melalui celah  tirai pintu kamar ,melihat air mata emak tak terbendung, dan duduk tersungkur ke kursi makan, kedua telapak tangan emak menutup wajah ,Nampak emak terisak tapi suara tangis hampir tak terdengar. Kata-kata makian yang keluar dari mulut ayah membuat emak semakit terisak, dan suara isakan itu seperti ibu tahan dengan kuat , mungkin ibu tidak mau suaranya terdengar oleh kami yang sedang tidur.
Emaakkk,ya Allah ……. tak sadar air mataku menetes,tak kuat melihat perlakuan ayah yang semakin kasar sejak sepulangnya dari berhenti kerja di kota. Ayah memang tak pernah pulang sejak 3 tahun terakhir semenjak emak sakit keras sehingga untuk membiayai berobat dan kebutuhan sehari-hari harus meminjam kepada pak cik ,kerabat ayah yang simpati kepada kami.Pernah sekali ketika asma emak kambuh tengah malam , obat yang diberiakan oleh dokter habis, emak cuma minum rebusan air daun untuk mengobati asmanya.emak memang tak mempersoalkan, cuma aku yang kadang-kadang menggerutu mempersoalkan ayah tak pernah mengirim uang dan mempedulikan kami.emak memilih diam dan lebih banyak menasehati kami untuk menjadi anak yang tidak membangkang.

3 tahun bukan waktu yang singkat, untuk menghidupi dua anak sendiri ,dengan hasil dari mencari kayu bakar dan buruh cuci itu bukan hal mudah. tapi yang paling aku kagumi dari emak, beliau tak pernah mengeluh sama sekali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar