ranting
Seperti
suara Halilintar,suara ayah berteriak cerai tepat di wajah emak, ayah
mengucapkan kata talak 3 kali dengan wajah penuh amarah , aku yang sedari tadi
mengintip melalui celah tirai pintu
kamar ,melihat air mata emak tak terbendung, dan duduk tersungkur ke kursi
makan, kedua telapak tangan emak menutup wajah ,Nampak emak terisak tapi suara
tangis hampir tak terdengar. Kata-kata makian yang keluar dari mulut ayah
membuat emak semakit terisak, dan suara isakan itu seperti ibu tahan dengan kuat
, mungkin ibu tidak mau suaranya terdengar oleh kami yang sedang tidur.
Emaakkk,ya
Allah ……. tak sadar air mataku menetes,tak kuat melihat perlakuan ayah yang
semakin kasar sejak sepulangnya dari berhenti kerja di kota. Ayah memang tak
pernah pulang sejak 3 tahun terakhir semenjak emak sakit keras sehingga untuk
membiayai berobat dan kebutuhan sehari-hari harus meminjam kepada pak cik
,kerabat ayah yang simpati kepada kami.Pernah sekali ketika asma emak kambuh
tengah malam , obat yang diberiakan oleh dokter habis, emak cuma minum rebusan
air daun untuk mengobati asmanya.emak memang tak mempersoalkan, cuma aku yang
kadang-kadang menggerutu mempersoalkan ayah tak pernah mengirim uang dan mempedulikan
kami.emak memilih diam dan lebih banyak menasehati kami untuk menjadi anak yang
tidak membangkang.
3
tahun bukan waktu yang singkat, untuk menghidupi dua anak sendiri ,dengan hasil
dari mencari kayu bakar dan buruh cuci itu bukan hal mudah. tapi yang paling aku kagumi dari emak, beliau tak pernah mengeluh sama sekali